IHSANUL AMAL

iHSANUL AMAL

IHSANUL AMAL

 

 (Amalan yang Terbaik)

Assalamua’alaikum Warohmatulahi Wabarakthu

orang yang beragama islam itu diibaratkan dengan dua status.apa dua status itu ? dua status itu adalah mukmim dan muslim,jika kita kaitkan dengan {IHSANUL AMAL] tentu ada hubungannya.

Orang yang mukmin pasti muslim dan belum tentu orang yang muslim itu dianggap mukmin dan apa hal yang membedakannya ?,hal yang membuat itu berbeda adalah bukan pada statusnya muslim atau mukminnya tapi yang membuat hal itu berbeda ialah pada amal perbuatannya,kenapa pada amal perbuatannya.?,kita contohkan seperti ini,kita bisa melihat orang berpakaian seragam bagus pasti kerja ditempat yang bagus dan begitu juga sebalikanya orang yang pakai pakaian biasa itu pasti bekerja ditempat yang biasa-biasa saja dan kenapa demikian! karna Manusia melihat orang terlebih dahulu pada tampilannya padahal mungkin saja orang yang berpakaian biasa memiliki pekerjaan yang lebih baik dari pada orang memiliki seragam dalam pekerjaannya.dan disinilah kita dapat memahami bahwa ketika ia menrepkan amalan yang terbaik walaupun di [ktp] nya terdapat status beragama islam itu tidak bisa memungkinkan bahwa ia termasuk orang yang sudah menerapkan ihsanulamal/amalan yang terbaik sebelum ia mengetahui  apa-apa saja yang harus dilakukan sebelum menerapkan ihsanul amal.

Ketika kita membicarakan ihsanul amal tentu orang yang mukmin itu lebih mendominasi dalam cara penerapan amalan ini dan tentu hal seperti ini pasti karna seorang yang dikatakan mukmin adalah orang yang setiap amal/perbuatannya itu IHSAN yaitu terbaik dan Allah Swt telah berfirman dalam surah al-mulk ayat 2

“Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4qu‹ptø:$#ur öNä.uqè=ö7u‹Ï9 ö/ä3•ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur Ⓝ͕yèø9$# â‘qàÿtóø9$# ÇËÈ

Artinya:    Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(TQS Al-Mulk:67-2)

                 Amalan yang terbaik/ihsan tidak akan sempurna jika tidak memenuhi dua syarat apa saja yang menjadi syaratnya ? yang menjadi syaratnya adalah Niatnya ikhlas&Caranya harus benar,jika salah satu syarat saja tidak diterapkan yakinlah amalan yang kita lakukan tidak akan menjadi amal yang ihsan/terbaik.

               Yang pertama tadi adalah niatnya harus ikhlas “shal pernah berkata”ikhlas adalah jika diam dan geraknya seseorang hamba adalah semata-mata untuk Allah Ta’ala.”Ibrahim bin adham juga pernah mendefenisikan tentang ikhlas”ikhlas adalah ketulusan niat bersama Allah”.disinilah kita bisa mengerti bahwa semua perbuatan harus kita niatkan untuk Allah Swt karna nabi Saw pernah Bersapda,”Allah Azza Wa Jalla tidak akan menerima suatu amal kecuali yang ikhlas dan diniatkan untuk mendapatkan ridhonya,”(HR.NAsai dan disahihkan oleh Al-Albani.).dan jika niat tadi sudah mantul(Mantap betul) hanya ditujukan kepada sang Khliq maka amalan yang kita lakukan pasti baik karna niatnyapun sudah baik Rasullullah Saw juga pernah bersapda tentang hal ini “innamal a malu bin niat”Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya”.ini sudah jelas bahwa apa yang kita niatkan pasti mempengaruhi apa yang akan kita kerjakan,contohnya seperti ini kita berniat untuk shalat kemesjid maka apa yang kita niatkan tadi pasti terjadi dan shalat akan dilaksanakan dimasjid  asalkan kita benar-benar berniat untuk berbuat kebaikan.

       Didalam subuah kisah juga disebutkan bahwa Seseorang bertanya kepada Fudhail bin iyad, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110,
“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.

         Setelah kita tahu bahwa kita harus mengerjakan suatu amalan dengan ikhlas dan cara yang benar maka  Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam melakukan amalan dengan niat yang ikhlas  yaitu Sabar,ketika ada seorang hamba melakukan suatu amalan dan suatu saat ia diuji oleh Allah Swt, maka hal yag harus ia lakukan adalah sabar artinya tidak mudah berputus asa contohnya seperti kita baru bertaubat dan menjalankan amal-aml terpuji seperti shalat,mengaji dllnya.disaat seperti ini Allah menguji kadar keimanan kita  apakah kita benar-benar bertaubat atau hanya ingin coba-coba saja menjadi orang yang alim,maka disaat seperti inilah kita sabar dan hanya meminta bantuan kepada Allah saja,karna nabi Saw.Bersabda”jika engkau meminta tolong,minta tolonglah kepada Allah. Dan dalam surah Al-Fatiha ayat 5 Allah Swt Berfirman:

x‚$­ƒÎ) ߉ç7÷ètR y‚$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ

Artinya:

hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.

[TQS.Al-Fatiha 5]

                Selain sabar,tunduk pada kebenaran merupakan ciri-ciri orang yang ikhlas dan bagaimana mungkin kita bisa mengatakan seseorang dengan niat yang ikhlas sementara ia sendiri tidak taat pada kebenaran.tentu amal yang kita kerjakan akan bisa jadi tertolak,maka dari itu kita sebagai umat muslim senantiasa selalu ta’at pada kebenaran/perintah Allah swt dan menjahui larangannya.

                Tidak mudah berfatwa merupakan salah satu cara atau ciri-ciri orang yang ikhlas yang maksudnya ialah tidak asal berbicara tanpa ada ada dasar ilmu yang jelas,maka dari itu ketika kita ingin melaksanakan suatu amalan maka hendaklah mencari ilmunya terlebih dahulu agar apa yang DI kerjakannya sesuai dengan apa yang telah dituliskan.yang terakhir adalah tidak malu mengatakan “saya tidak tahu “,walaupun ia adalah seorang ulama ataupun ustad ketika ditanya tentang suatu hal dan disaat yang bersamaan ia tidak punya pengetahuan tentang itu maka ia tidak boleh menjawab karna ia sendiri pun tidak memahami apa jawaban yang cocok untuk dijabarkan.disinilah kita tidak boleh asal berbicara,karna Allah swt tidak senang kepada orang yang berbicara tanpa ada dasar ilmu yang benar.

                 Dan ketika semua hal tadi sudah kita ketahui,maka ikhlas tadi akan terwujud dalam diri seseorang ketika ia mampu menyatukan islam secara sempurna baik pada dirinya maupun pada orang lain.dengan cara sebagai berikut yaitu:

1 .Menggali ilmu islam sedalam-dalammnya,seorang ulama seperti imam Syafii yang hafal Al-Quran pada umur 7 tahun pasti ia dapatkan dengan mengkaji dan mengulang-ulang bacaannya dan begitu juga kita dalam berbuat sesuatu harus dicari ilmunya dahulu dan baru amalnya dengan pengulangan yang teratur.

  1. setelah mencari dan mencari maka hal yang harus dilakukan adalah mengapliksikan apa yang kita cari tadi dan yakinlah jika hanya kita baca,kita kaji tanpa ada pengamalan yang kita lakukan pasti hal yang kita kaji tadi akan mudah hilang percuma,maka dari itu setelah teori maka praktekan langsung baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.

                 Setelah kita bahas tentang niat yang ikhlas dan cara penerapanya,sekarang ialah syarat yang kedua yaitu cara yang benar ,maksudnya ialah kita harus mengikuti perintah Allah atau mengamalkan sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan didalam Al-quran dan Al-Hadits karna Rasullulah pernah berkutbah aku tinggalkan kepadamu dua perkara ,jika engkau mengikuti dua perkara ini niscaya kamu tidak akan tersesat……dan yang dimaksud dua perkara ini adalah Al-Quran Dan Al-Hadits,maka dari itu hal-hal yang kita lakukan harus bersumber dari dua perkara tersebut.

                  Jika dua syarat tadi sudah kita penuhi maka yakinlah amalan yang terbaik pastinya akan diterima oleh Allah swt dan mendapatkan pahala yang akan diditerima berupa surga.dan tentu  yang dikatakan Fudhail bin iyad tadi harus kita ecamkan dalam benak kita bahwa amal baru dibisa di terima setelah memenuhi dua syarat tadi yaitu niatnya ikhlas dan caranya harus benar,

                    IHSANUL AMAL tadi sudah sangat jelas penjelasnya sekarang tinggal kita yang harus mengapliksikannya dalam kehidupan sehari-hari baik pada diri kita sendiri maupun pada orang lain.

                      Semoga apa yang saya jelaskan tadi bermanfaat dan saya akhiri dengan Wasalamua’alaikum…………

 

By:Ululazmi

ululazmi

About

Ingin menegakan Islam

View all posts by