PROBLEMATIKA UMAT

cropped-ululazmi1.jpg

PROBLEMATIKA UMAT

Agama Islam telah menangani problematika utama manusia. Agama Islam memecahkan problematika utama manusia berupa posisi dan eksistensi manusia di dunia dalam keterkaitan dengan sebelum dunia dan setelah dunia sehingga mendapatkan kebangkitan yang hakiki. Agama Islam menyelesaikan problematika utama manusia dengan pemecahan yang sesuai dengan fitrah, memuaskan akal serta memberi ketenangan jiwa. Bahkan agama Islam telah menetapkan bahwa untuk memeluk agama Islam bergantung sepenuhnya pada pengakuan/keyakinan terhadap pemecahan ini.

IV.1. PERCAYA KEPADA ALLAH SWT
Agama Islam dibangun atas satu dasar yaitu di balik alam semesta, manusia dan kehidupan ada pencipta yang mutlak yang telah menciptakan ketiganya, dan yang telah menciptakan segala sesuatu lainnya. Dialah Tuhan Sang Maha Pencipta.
Bukti-bukti yang menunjukkan adanya Tuhan Sang Maha Pencipta dapat ditelusuri sebagai berikut :
1. Tuhan, Sang Maha Pencipta, telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada sehingga Ia bukan makhluk (yang diciptakan), sebab sifatnya sebagai Al khaliq (Sang Pencipta), memastikan bahwa Dia bukan makhluk. Bahkan hal itu memastikan pula bahwa Dia, Sang Maha Pencipta, wajibul wujud (ada secara mutlak), karena segala sesuatu menyandarkan wujudnya kepada diriNya, sedangkan Dia tidak bersandar pada sesuatu apapun.
2. Manusia tidak dapat memungkiri bahwa terdapat Tuhan Sang Maha Pencipta. Manusia menyadari bahwa manusia, alam semesta dan kehidupan bersifat lemah dan saling membutuhkan kepada yang lain. Misalnya manusia, ia terbatas sifatnya, karena tumbuh dan berkembang tergantung kepada hal lain, sampai suatu batas yang tak dapat dilampauinya lagi. Begitu pula dengan kehidupan (nyawa), Ia bersifat terbatas pula, sebab penampakannya bersifat individual belaka. Selain itu, kita semua menyaksikan bahwa kehidupan itu berhenti pada satu individu saja. Jadi kehidupan bersifat terbatas. Demikian pula dengan alam semesta. Alam semesta merupakan kumpulan benda-benda yang terbatas dan bersifat terbatas Jadi, manusia, kehidupan dan alam semesta bersifat terbatas. Manusia menaydari bahwa terhadap sesuatu yang terbatas, pasti sesuatu tersebut berawal dan berakhir. Sesuatu yang berawal dan berakhir tentu diciptakan oleh sesuatu yang lain. Al khaliq adalah Dzat Yang Menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan.

Jika ada yang menyatakan bahwa Sang Maha Pencipta sesungguhnya sama dengan ciptaanNYA, yaitu makhluk, maka hal itu adalah pandangan yang keliru. Jika ia diciptakan, berarti ia terbatas dan bukan pencipta yang sesungguhnya. Dengan kata lain Sang Maha Pencipta tidak mungkin sekaligus menjadi makhluk atau sebaliknya, makhluk tidak mungkin sekaligus Sang Maha Pencipta. Sang Maha Pencipta wajibul wujud dan dialah yang menciptakan seluruh makhluk.
Demikian juga, merupakan pernyataan yang keliru jika menyatakan bahwa Sang Maha Pencipta menciptakan diri mereka sendiri. Tidak mungkin dua sifat yang berlawanan (pencipta dan yang diciptakan) ada pada satu benda pada saat yang bersamaan. Sang Maha Pencipta (khaliq) tidak boleh tidak harus bersifat azali dan wajibul wujud. Sang Maha Pencipta tersebut adalah Allah SWT.

Penggunaan Akal
Iman kepada Yang Maha Pencipta, merupakan hal yang fitri dalam diri manusia. Akan tetapi iman yang fitri ini hanya muncul dari perasaan belaka. Padahal perasaan tidak dapat dijadikan sebagai acuan, sebab perasaan sering menambah-nambah terhadap apa yang diimani, yaitu dikaitkan dengan sesuatu yang realistis. Bahkan mengkhayalkan sifat-sifat tertentu yang lazim, terhadap apa yang diimani, sehingga dapat menjerumuskan ke arah kekufuran dan kesesatan. Penyembahan berhala, khura¬fat (cerita bohong) dan kebatilan lain, muncul karena perasaan hati yang salah dalam beriman kepada Allah SWT.
Islam tidak membiarkan perasaan hati ini sebagai satu-satunya jalan menuju iman. Islam menegaskan perlunya penggunaan akal bersama-sama perasaan hati dalam beriman kepada Allah SWT. Bahkan Islam melarang manusia untuk ber-taqlid dalam urusan aqidah. Islam menjadikan akal sebagai timbangan dalam beriman. Islam mewajibkan manusia untuk menjadikan imannya benar-benar timbul dari proses berpikir. Hal itu dapat diketahui dari berbagai dalil yang merupakan seruan untuk memperhatikan alam semesta dengan seksama, dalam rangka mencari petunjuk untuk beriman kepada Sang Maha Pencipta.
Ratusan ayat dalam Al Qur’an telah menyeru untuk berfikir hingga membenarkan dengan pasti keberadaan Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran 190)
Semua dalil tersebut ditujukan kepada manusia agar iman muncul dari akal dan bukti. Semua Dalil tersebut juga memperingatkan manusia untuk tidak mengambil jalan yang telah ditempuh oleh nenek moyang, yang telah merasa puas terhadap apa yang telah mereka temui tanpa meneliti dan mengujinya lagi untuk mengetahui kebenaran. Hasilnya adalah keimanan yang sahih kepada Allah SWT. Inilah iman yang jernih, iman yang sampai kepada yaqin akan adanya Allah SWT, karena diperoleh melalui pengamatan dan perenungannya.
Kendati wajib atas manusia untuk menggunakan akal dalam mencapai iman kepada Allah SWT, namun tidak mungkin baginya untuk memahami apa yang di luar jangkauan indera dan akalnya. Hal ini karena akal manusia terbatas. Betapapun tinggi tingkatannya, tetap saja ia terbatas, dan tumbuh dalam batas-batas yang tidak dapat dilampauinya lagi. Karena itu pemahamannya pun terbatas adanya. Oleh karenanya, akal tidak mampu untuk memahami dzat Allah, sebab Allah berada di luar ketiga unsur pokok alami (alam semesta, manusia dan kehidupan). Akal manusia itu sendiri tidak mampu untuk memahami apa yang di balik dirinya, maka ia tak mampu untuk mencapai dzat Allah.
Namun tidak dapat dikatakan : “Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah, sedangkan akalnya sendiri tidak mampu memahami dzat Allah?” Tidak, tidak bisa dikatakan begitu. Hakekatnya iman itu adalah percaya akan adanya (wujudnya) Allah, yang mana hal ini dapat dipahami melalui wujud makhluk-makhlukNya, yaitu alam semesta, manusia dan kehidupan. Ketiganya berada dalam batas-batas yang dapat dicapai oleh akal.

PERCAYA KEPADA KITABULLAH DAN RASULULLAH
Jika akal telah beriman kepada Allah SWT, maka persoalan yang berkaitan dengan asal manusia, alam se¬mesta dan kehidupan telah terpecahkan dengan sempurna. Allah SWT adalah Sang Maha Pencipta. Allah SWT telah menciptakan seluruh makhlukNYA beupa alam semesta, manusia dan kehidupan. Persoalan berikutnya yang harus dipe¬cahkan adalah persoalan hakekat hidup, tujuan hidup, bagaimana manusia harus menjalani kehidupan dan memecahkan segala problema¬tikanya. dan bagaimana manusia setelah mati.
Jawaban dari persoalan tersebut juga merupakan kebutuhan dasar seluruh manusia. Oleh karena itu jawaban tersebut harus merupakan jawaban yang pasti dan meyakinkan. Jawaban yang pasti dan meyakinkan tersebut hanya bisa dihasilkan melalui informasi yang diberikan Allah kepada manusia, disebabkan dua hal, sebagai berikut :
1. Allah SWT adalah Sang Maha Pencipta, Yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan sehingga adalah Yang Maha Mengetahui, termasuk mengetahui alam semesta, manusia dan kehidupan. Berdasarkan hal itu, informasi dan pemecahan terhadap permasalahan kehidupan manusia yang berasal dari Allah SWT pasti benar secara meyakinkan.
2. Manusia, hanyalah makhluk sehingga pemecahan permasalahan kehidupan yang berasal dari manusia penuh ketidakpastian, membingungkan, bahkan bisa menimbulkan malapetaka bagi manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, sebagai kasih sayang kepada manusia, Allah SWT telah memberikan petunjuk berupa hakekat hidup, tujuan hidup, bagaimana manusia harus menjalani kehidupan dan memecahkan segala problema¬tikanya dan bagaimana manusia setelah mati. Petunjuk tersebut adalah petunjuk yang pasti dan meyakinkan. Jika petunjuk itu digunakan maka persoalan dasar manusia akan terpecahkan dan manusia akan menjalani kehidupan di dunia dan akhirat dengan penuh kebahagiaan.
Kalamullah adalah petunjuk yang pasti dan meyakinkan dari Allah SWT. Kalamullah berisi petunjuk yang dibutuhkan manusia dalam memecahkan permasalahan kehidupannya dan bagaimana setelah mati. Kalamullah adalah petunjuk yang membawa manusia kepada kehidupan dunia dan akhirat.
Kalamullah sampai kepada umat manusia tidak melalui ilham, wangsit atau mimpi tetapi melalui para Nabi dan Rasul. Jika kalamullah sampai kepada manusia melalui ilham, wangsit atau mimpi pasti akan terjadi kekacauan dalam kehidupan manusia. Ada kemungkinan setiap manusia merasa telah mendapatkan ilham, wangsit atau mimpi. Dampaknya, akan terjadi perpecahan yang dahsyat di tengah manusia tanpa bisa diselesaikan.
Kalamullah sampai kepada manusia melalui para nabi dan rasul. Bukti yang paling jelas berupa kebutuhan manusia kepada Nabi dan Rasul dalam beribadah kepada Allah. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu melakukan peribadahan kepada Allah, sebab peribadahan adalah suatu hal yang fitri dalam diri manusia dalam rangka mentaqdiskan (mensucikan) Penciptanya. Aktivitas mentaqdiskan di¬namakan ibadah, yang merupakan tali penghubung antara manusia dan Penciptanya.
Apabila hubungan ini dibiarkan sendiri tanpa aturan, akan cenderung menimbul¬kan kekacauan ibadah serta menyebabkan terjadinya penyembahan kepada selain Allah SWT. Jadi harus ada aturan ibadah. Hanya saja aturan ini tidak boleh datang dari fihak manusia, karena manusia tidak mampu memahami apakah perbuatan ibadah yang dilakukan diterima atau ditolak allah SWT. Aturan ini harus datang dari Allah SWT.
Aturan peribadatan ini sampai kepada manusia, melalui para Nabi dan Rasul. Dengan kata lain Nabi dan Rasul adalah sumber untuk menunjukkan peribadatan yang diterima Allah SWT. Oleh karena itu, harus ada para Nabi dan Rasul yang menunjukkan peribadatan yang diterima Allah.
Bukti lain akan kebutuhan manusia terhadap para Rasul adalah bahwa pemuasan manusia akan tuntutan gharizah (naluri) serta kebutuhan-kebutuhan jasmaninya adalah merupakan yang mutlak perlu. Pemuasan semacam ini apabila dibiarkan berjalan tanpa suatu aturan akan menjurus ke arah pemuasan yang salah dan berlebihan serta akan menyebabkan mala petaka terhadap umat manusia. Oleh karena itu harus ada aturan yang mengatur gharizah dan kebutuhan-kebutuhan jasmani ini.
Hanya saja aturan ini tidak boleh datang dari pihak manusia, sebab pema¬haman manusia dalam mengatur gharizah dan kebutuhan-kebutuhan jasmani senantiasa diwarnai kekeliruan, perselisihan dan keterpengaruhan oleh lingkungan. Apabila manusia dibiarkan membuat aturan sendiri, maka aturan yang ia buat pun diwarnai kekeliruan, perselisihan dan pertentangan yang akan menjerumuskan manusia ke dalam kenestapaan. Aturan tersebut harus datang dari Allah SWT yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, harus ada para Nabi dan Rasul yang menunjukkan aturan Allah dalam hal pemenuhan gharizah dan kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia.
Al Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad SAW
Jika akal telah beriman kepada Allah, kalamullah dan rasulullah, maka persoalan dasar manusia sudah terjawab. Manusia diciptakan oleh Allah SWT di dunia untuk diberikan petunjuk dariNYA yang dibawa Nabi dan Rasulullah sehingga dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat.
Selanjutnya, yang menjadi masalah adalah bagaimana akal dapat membuktikan bahwa Rasullullah SAW benar-benar utusan Allah dan benar-benar mendapat wahyu dari Allah. Akal harus mampu membuktikan sebab petunjuk dari Allah SWT sampai hari kiamat kelak adalah melalui Rasulullah SAW. Jika akal tidak mampu membuktikan kenabian Rasulullah SAW, maka keterikatan terhadap agama Islam pada diri seseorang menjadi lemah.
Akal dapat membuktikan kenabian Rasulullah SAW dengan cara membuktikan bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah. Jika terbukti bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah, maka pembawa Al Qur’an kepada manusia, yaitu Rasulullah SAW pastilah nabiyullah dan Rasulullah.
Bukti bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah dapat dilihat dari kenyataan bahwa Al-Qur’an itu sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dalam menentukan dari mana Al-Qur’an itu berasal, dapat kita jumpai adanya tiga kemungkinan atas asal-usulnya. Kemungkinan pertama, ia merupakan karangan bangsa Arab. Kemungkinan kedua, ia merupakan karangan Muhammad SAW. Kemungkinan ketiga, Ia berasal dari Allah SWT semata. Tidak ada kemungkinan lain selain dari yang ketiga ini sebab Al-Qur’an adalah khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gaya.
Kemungkinan yang pertama, yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan karangan bangsa Arab adalah suatu kemungkinan yang bathil. Sebab Al-Qur’an sendiri telah menantang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat “Katakanlah: “Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya ” (QS Hud 13) dan di dalam ayat “Katakanlah : Kalau benar yang kamu katakan maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (QS Yunus 38)

Orang Arab telah berusaha untuk menghasilkan karya yang serupa, akan tetapi mereka tidak berhasil. Jadi Al-Qur’an bukan berasal dari perkataan mereka karena ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan karya yang serupa. Kendati ada tantangan dari Al-Qur’an dan usaha dari mereka untuk membuat karya yang serupa.
Kemungkinan yang kedua, yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu  karangan Muhammad SAW, adalah kemungkinan yang bathil pula sebab Mu¬hammad juga orang Arab. Bagaimanapun jeniusnya ia, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Muhammad yang orang arab itu juga tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Jadi jelaslah bahwasannya Al-Qur’an itu bukan karangannya
Apalagi banyak hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi Muhammad saw, yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara tawatur yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat mana pun dalam Al-Qur’an, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasa (uslub). Padahal Nabi Muhammad SAW di samping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, juga dalam waktu yang bersamaan selalu mengeluarkan hadits. Akan tetapi keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya. Padahal bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan gaya yang lain sebab hal ini merupakan bagian dari dirinya. Jadi karena tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Qur’an dengan gaya bahasa hadits maka pasti Al-Qur’an bukan perkataan Nabi Muhammad SAW, disebabkan terdapat perbedaan yang tegas dan jelas antara keduanya.
Oleh karena tidak seorang pun dari bangsa Arab yang bisa menuduh bahwa Al-Qur’an itu perkataan Muhammad atau mirip dengan gaya pembicaraannya, justru karena paham mereka yang begitu dalam akan gaya-gaya bahasa mereka sendiri, orang Arab jahiliyah hanya bisa melontarkan tuduhan bahwa Muhammad SAW menyadur dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr. Tuduhan ini ditolak keras oleh Allah SWT sebagaimana dalam firmanNya : “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad) Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (non Arab), sedangkan A!-Qur’an itu dalam bahasa arab yang jelas” (QS An-Nahl 103)
Apabila kini telah terbukti bahwa Al-Qur’an itu bukan karangan bangsa Arab, dan bukan pula karangan Muhammad saw, maka yakinlah bahwa Al-Qur’an itu merupakan perkataan Allah (kalam Allah) yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya (yaitu Muhammad SAW).
Karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang membawa Al-Qur’an yang merupakan perkataan dan syariat Allah, sedang tidak ada yang membawa syariat-Nya melainkan para Nabi dan Rasul, maka berdasarkan akal dapat diyakini bahwa Mu¬hammad saw itu seorang Nabi dan Rasul.

KESIMPULAN
Iman kepada Allah, iman kepada Rasulullah SAW dan iman bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, mewajibkan beriman kepada apa saja yang dikabarkan oleh-Nya. Baik hal itu terjangkau indera atau tidak. Jadi kita wajib beriman kepada Hari kebangkitan, surga, neraka, hisab dan siksa. Juga wajib beriman akan adanya jin, setan, malaikat serta apa saja yang diterangkan Al-Qur’an dan Hadits qath’i. Iman seperti ini, walaupun mengutip (naql) dan mendengar (sama’), tetapi pada dasarnya merupakan iman yang aqli, sebab dasarnya telah terbukti oleh akal.
Agama Islam telah memecahkan simpul problematika utama manusia melalui aqidah Islam yang berisi jalan menuju iman. Di dalam akidah Islam, akal seorang muslim sampai kepada keyakinan mengenai kehidupan sebelum dunia, yaitu Allah SWT, kehidupan dunia dan kehidupan setelah dunia yaitu Hari Akhirat. Demikian juga akal sampai kepada keyakinan tentang penghubung antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dunia berupa penghubung penciptaan (silatul khalq) dan penghubung berupa aturan-aturanNYA. Demikian juga akal sampai kepada keyakinan tentang penghubung antara kehidupan dnia dengan kehidupan setelah dunia, berupa perhitungan amal manusia atas apa yang Ia kerjakan di dunia (muhasabah). Demikian juga akal sampai kepada keyakinan bahwa manusia terikat dan wajib berjalan di dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah dan wajib beri’tiqad bahwasannya Ia akan dihisab di Hari Kiamat atas perbuatan-perbuatan di dunia.
Dengan demikian telah terbentuklah pemikiran yang jernih tentang apa yang ada di balik kehidupan, alam semesta dan manusia. Serta telah terbentuk pula pemikiran yang jernih tentang alam sebelum dan alam sesudah manusia. Dan bahwasannya terdapat ‘tali penghubung’ antara dunia dengan kedua alam terse¬but. Dengan demikian telah terurailah ‘masalah besar’ itu dengan aqidah Islamiah. Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul¬Nya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan kepada Kitab vang diturunkan sebelumnya. Dan siapa saja yang mengingkari Allah dan Malaikat¬-Nya dan Kitab-Kitab-Nva don Rasul-Rasul-Nya dan Hari Akhir maka ia telah sesat sejauh-.jauh kesesatan” (QS An-Nisa 136)

ululazmi

About

Ingin menegakan Islam

View all posts by